Cara Arsitek Mengatasi Pemukiman Kumuh Perkotaan

Cara Arsitek Mengatasi Pemukiman Kumuh Perkotaan

Sudah menjadi tgas arsitek mendesain perumahan seperti komplek atau pemukiman. Tapi bagaimana kalau cara arsitek mengatasi pemukiman wakga perkotaan yang kumuh.

Biasanya, permukiman kumuh identik dengan sejumlah hunian yang rapat, lingkungan yang kotor, amburadul, dan bau.

Tidak hanya jelek dipandang, permukiman kumuh membuat keamanan dan kesehatan warganya juga rentan.

"Kumuh itu sebenarnya tidak pernah ada definisi yang jelas. Tetapi yang saya tangkap, kesan negatif bisa diatasi dengan sirkulasi udara dan cahaya alami yang baik," ujar arsitek dari RUJAK Center for Urban Studies Andesha Hermintomo.

Menurut dia, hunian di dalam lingkungan permukiman harus didesain untuk berfungsi baik meski tanpa menggunakan pendingin ruangan.

Selain itu, hunian juga perlu dibangun dengan material yang aman dan tidak mudah terbakar. Begitu pula pola ruangnya, arus dibangun dengan lebih aman dari risiko kebakaran.

"Misalnya, penempatan dapur bukan di dalam unit hunian, tapi di tempat yang terawasi oleh komunitas atau tetangga yang lain," tutur Andes, sapaan akrab Andesha.

Ia menambahkan, lingkungan akan jauh dari kesan negatif kumuh jika tersedia ruang-ruang interaksi sosial serta dekat dengan sumber mata pencarian warga.
Hal ini, termasuk kemungkinan keluarga tersebut bisa punya warung di bagian depan rumah masing-masing.

Salah satu contoh desain lingkungan yang baru dirancang Andes untuk menghilangkan kesan negatif kumuh adalah Kampung Akuarium di Jakarta Utara.

Dalam desain tersebut, terdapat 5 titik yang tergambar, pertama adalah pintu masuk kawasan, Pasar Heksagon, Kampung Akuarium, plaza, akses ke Luar Batang, dan pelabuhan.

Faktor Penyebab Pengembang China Ke Indonesia

Faktor Penyebab Pengembang China Ke Indonesia

Indonesia memang suatu negara yang kaya. Selain alamnya yang sudah bukan rahasia lagi kita masih memiliki potensi yang di lirik bangsa asing yakni China. 

Berlomba-lombanya para pengembang dan investor China masuk pasar properti Indonesia tentu bukan tanpa alasan.

Di antaranya adalah faktor memburu keuntungan, serta menancapkan pengaruh dan reputasi. Selain itu, secara fundamental, China dan Indonesia sejatinya punya banyak kesamaan.

Menurut CEO Leads Property Indonesia Hendra Hartono, kesamaan itu tecermin dari jumlah dan kepadatan populasi.

"Dari segi ini, kedua negara punya kesamaan, terutama di greater Jakarta atau Jadebotabek," ujar Hendra kepada Kompas.com, Senin (9/1/2017). 

Kemudian, lanjut Hendra, terpilihnya China untuk membangun infrastruktur transportasi kereta cepat Jakarta-Bandung sangat memengaruhi tingkat keyakinan pengembang properti Negeri Tirai Bambu itu menggarap pasar Indonesia.

Hal ini, kata Hendra, sekaligus menunjukkan bahwa ada korelasi erat antara pembangunan infrastruktur untuk transportasi publik dan pengembangan properti.

Faktor selanjutnya adalah fakta bahwa kondisi pasar properti China sedang melambat (slow down).

Di China, bisnis properti memang sedang melambat, sebagaimana hasil riset Biro Statistik Nasional. Volume penjualan rumah terus menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Pada bulan Oktober 2016 saja, kenaikan penjualan bidang properti hanya 26,4 persen atau melambat dari bulan sebelumnya, September, yang mencatat pertumbuhan 34 persen.

Penjualan properti berdasarkan luas lantai dalam 10 bulan pertama juga turun menjadi 26,8 persen, dari sebelumnya 26,9 persen.

Pasokan yang berlebih di kota-kota lapis kedua menyebabkan penurunan penjualan lebih signifikan pada bulan lalu dibandingkan dengan kota-kota tier satu.

Kendati demikian, para pengembang China ini dituntut harus tetap berproduksi. Karena itu, mereka memilih Indonesia yang sangat potensial untuk mendukung rencana strategisnya.